Postingan

Rumah Prodeo

Fendy, pemuda berasal dari keluarga kurang mampu. Tekadnya sudah bulat untuk memperbaiki nasibnya dengan merantau ke ibu kota. Bayangan ibu kota yang menyediakan berbagai lapangan pekerjaan terpampang nyata di pikirannya. Kiranya berbalik seratus delapan puluh derajat, harapan mendapatkan pekerjaan masih jauh dari harapan. Untuk menyambung hidupnya, ia menjadi pemulung, tukang semir sepatu, kuli bangunan dan tukang parkir.  Saat menjadi tukang parkir, Fendy menggagalkan percobaan pencurian mobil milik pak Haris. Sebagai rasa terima kasih, pak Haris mengajak Fendy untuk tinggal di rumahnya. Awalnya, Fendy menolak akan tetapi hati selalu berbisik. "Terima saja Fen ajakan pak Haris, kamu kan Ndak punya rumah, dari pada mengontrak mendingan uangnya di tabung saja". Suara itu selalu membayangi hidupnya, akhirnya Fendy memutuskan untuk tinggal bersama pak Haris.  Pak Haris, orang yang kaya raya, rumahnya luas dan sangat megah. Berbagai mobil mewah berbagai merk, bersih dan mengkila...

Kenduri

Menjelang hari raya Idul Fitri tahun ini, sudah setahun ibu meninggalkan kami. Tak terasa waktu begitu cepat berlalu, serasa baru kemarin ibuk masih ada di samping tidurku. Tradisi kenduri atau kirim doa masih melekat di keluarga kami, sehingg ketika ibu kami meninggal dunia, tak terlewatkan acara tiga hari, tujuh hari, empat puluh hari, pendak 1 , pendak 2, dan nyewu.  Tradisi ini bertujuan untuk mengirim doa kepada ahli kubur dan sebagai shodaqoh. Tradisi ini biasanya dilakukan dengan pembacaan doa oleh satu orang kemudian di bagikan berkat berupa kue dan atau nasi. Kami lima bersaudara, dengan jarak usia yang tak begitu lama yaitu dua tahun atau tiga tahun. Meskipun usia tak terpaut lama, kami hidup rukun. Apapun permasalahan dalam keluarga selalu diselesaikan dengan musyawarah bersama. Salah satu masalah yang sering dimusyawarahkan yaitu kenduri atau kirim doa ibu. Mulai tiga hari, tujuh hari, empat puluh hari dan pendak 1  kami selalu berembug, mulai dari biaya, tamu, be...

Riweh

Semenjak kelahiran anak keduaku, aku mencari asisten rumah tangga yang membantu mengurus segala pekerjaan rumah, mulai memasak, menyapu, mencuci dan menyetrika pakaian.  Sri, asisten rumah tanggaku masih sangat muda. Cewek lulusan SMP ini sudah ahli melakukan pekerjaan rumah, sebab sebelum bekerja, ia telah mengikuti pelatihan di balai latihan kerja yayasan yang menaunginya.  Lebaran hari raya Idul Fitri, Sri berpamitan mudik ke kampung halamannya, Ngawi. Segala pekerjaan rumah tangga beralih padaku. Aku berniat sekali merengkuh dayung dua tiga pulau terlampaui, sekali aku masuk dapur berbagai aktivitas perdapuran segera bisa kuatasi. Selepas bangun tidur, kumulai aktivitas pagi ini dengan memasak nasi menggunakan penanak nasi listrik,  magic com. Alat masak cukup praktis, setelah air dan nasi dimasukkan kedalamnya, beberapa menit kemudian akan matang dengan sendirinya. Kudidihkan sepanci air pada kompor gas, sembari menunggu air mendidih mesin cuci tak kubiarkan ongkang-...

Gegara Bucin

Keluarga Sudirja, tersohor akan kekayaan dan kewibawaannya. Berbagai bidang bisnis digelutinya, mulai bisnis makanan hingga properti. Jiwa enterpreneur  mengalir dari ayah hingga cucu-cucunya. Sifat ulet, pekerja keras dan pantang menyerah merupakan kunci kesuksesannya. Reno, cucu kedua dari bapak Sudirja mendapatkan amanah menjalankan bisnis properti di kota Serang, salah satu cabang perusahaan Sudirja Corp telah berhasil membuat perusahaannya menjadi yang terbesar di Serang. Berbagai penghargaan  telah diraih atas kesuksesan Reno.  Rasa cinta Reno pada kekasihnya, Hanna sangat besar, hingga sedetikpun tak ingin terlepas dari pandangannya. Sebutan  Bucin atau Budak Cinta pada Reno disematkan oleh teman-temannya. Saking besarnya cinta Reno pada Hanna, ia sanggup melakukan apapun untuk memenuhi keinginan Hanna. Setahun menjalin hubungan asmara dengan Hanna, Renno terjebak dalam  pergaulan yang salah, ternyata Hanna seorang pecandu narkoba. Cinta memang buta...

Mbok nah

Mbok nah, kami biasa memanggilnya. Nenek tua yang sudah berusia hampir delapan puluh tahun ini harus berjuang sekuat tenaga menghidupi anak dan cucunya. Semenjak ditinggal mati suaminya dua tahun lalu, mbok nah harus rela hidup di bawah kolong jembatan. Rumah dan segala harta benda peninggalan suaminya habis dijual untuk menyelamatkan nyawa cucunya, Siti yang mengidap penyakit leukimia atau kanker darah.  Orang tua Siti hidup serba kekurangan, untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya mereka mengandalkan upah buruh panggul di pasar besar yang jaraknya sekitar dua kilometer dari rumahnya.  "Mbok, di belakang rumah ada botol dan kaleng bekas, jika mau silhkan di ambil", ucapku sembari menuntun tangan mbok Nah ke belakang rumah. Mbok Nah bekerja sebagai pemulung di perumahan tempat tinggalku. Usia yang sudah tak muda sehingga tenagapun tak sekuat dulu, untuk berjalan pun harus menggunakan tongkat sebagai penopang. Keriput terlihat jelas di wajah dan tangan mbok Nah, badanpun kian...

Tertunduk Lemas

Heru, temanku sejak di bangku sekolah dasar. Selepas sekolah, kami sering bermain di sungai bersama teman lainnya. Malam hari kita belajar bersama membahas pekerjaan rumah (PR) yang akan di kumpulkan esok hari secara bergantian dari satu rumah ke rumah lainnya.  Setelah lulus sekolah dasar, Heru memilih mondok di salah satu pesantren sedangkan aku melanjutkan di sekolah menengah pertama (SMPN) dan sekolah menengah atas (SMA) di dekat rumahku, karena ibuku tak mengijinkan aku sekolah yang jaraknya jauh dari rumahku.  Setelah kami menamatkan sekolah masing-masing, Tuhan menakdirkan kami bertemu kembali di universitas yang sama. Meskipun berbeda jurusan, kami sering bertemu untuk membahas tugas masing-masing. Tanpa kusadari, suatu saat Heru mengungkapkan perasaannya kepadaku. "San, hari ini aku akan berterus-terang kepadamu, sebenarnya aku mengagumimu dan ingin menjadi seseorang yang spesial dihatimu", ucap Heru. Akupun gelagapan mendengar ucapan Heru, seperti petir di siang bol...

Mujur

Selepas lulus dari salah satu perguruan tinggi negeri di Malang, Diah mengajar salah satu sekolah dasar di desanya sebagai guru honorer. Meskipun gaji perbulannya hanya cukup untuk membeli kosmetik, Diah tetap melaksanakan tugasnya dengan baik.  Sikapnya yang tegas dan humoris dalam mengajar, tak sedikit siswa menyukainya. Berbagai metode pembelajaran yang mengasyikkan memudahkan siswa memahami materi yang disampaikan, sehingga banyak siswanya menjadi juara olimpiade baik tingkat kecamatan maupun kabupaten berasal dari sekolah ini. Nasib baik berpihak pada Diah, setahun mengabdi sebagai guru honorer, ia lolos mengikuti seleksi guru kontrak di dinas setempat. Lagi-lagi keberuntungan memihaknya, panggilan mengikuti sertifikasi guru jatuh padanya, meskipun banyak guru yang sudah lama bekerja di sekolah tersebut belum mendapatkan panggilan. Selang dua tahun, Diah menerima menerima surat keputusan calon pegawai negeri sipil di sekolah dasar negeri yang berbeda dengan tempat mengabdinya ...