Mujur

Selepas lulus dari salah satu perguruan tinggi negeri di Malang, Diah mengajar salah satu sekolah dasar di desanya sebagai guru honorer. Meskipun gaji perbulannya hanya cukup untuk membeli kosmetik, Diah tetap melaksanakan tugasnya dengan baik. 

Sikapnya yang tegas dan humoris dalam mengajar, tak sedikit siswa menyukainya. Berbagai metode pembelajaran yang mengasyikkan memudahkan siswa memahami materi yang disampaikan, sehingga banyak siswanya menjadi juara olimpiade baik tingkat kecamatan maupun kabupaten berasal dari sekolah ini.

Nasib baik berpihak pada Diah, setahun mengabdi sebagai guru honorer, ia lolos mengikuti seleksi guru kontrak di dinas setempat. Lagi-lagi keberuntungan memihaknya, panggilan mengikuti sertifikasi guru jatuh padanya, meskipun banyak guru yang sudah lama bekerja di sekolah tersebut belum mendapatkan panggilan. Selang dua tahun, Diah menerima menerima surat keputusan calon pegawai negeri sipil di sekolah dasar negeri yang berbeda dengan tempat mengabdinya semula. Tentu saja ini menjadi hal yang menggembirakan dan sekaligus menyedihkan. Diah bergembira sebab statusnya berubah dari guru tidak tetap menjadi guru pegawai negeri, di sisi lain Diah harus bersedih harus meninggalkan sekolah yang mengantarkannya menuju gerbang kesuksesan. Diah tidak mau di katakan sebagai kacang lupa akan kulitnya, tetapi Diah akan tetap membantu sekolah dasar yang menjadi titik awal kesuksesannya. 

#pentigraf keenambelas

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Uji pewarna alami pada tahu kuning

Peyek Laron

Rumah Prodeo