Tertunduk Lemas

Heru, temanku sejak di bangku sekolah dasar. Selepas sekolah, kami sering bermain di sungai bersama teman lainnya. Malam hari kita belajar bersama membahas pekerjaan rumah (PR) yang akan di kumpulkan esok hari secara bergantian dari satu rumah ke rumah lainnya. 

Setelah lulus sekolah dasar, Heru memilih mondok di salah satu pesantren sedangkan aku melanjutkan di sekolah menengah pertama (SMPN) dan sekolah menengah atas (SMA) di dekat rumahku, karena ibuku tak mengijinkan aku sekolah yang jaraknya jauh dari rumahku. 

Setelah kami menamatkan sekolah masing-masing, Tuhan menakdirkan kami bertemu kembali di universitas yang sama. Meskipun berbeda jurusan, kami sering bertemu untuk membahas tugas masing-masing. Tanpa kusadari, suatu saat Heru mengungkapkan perasaannya kepadaku. "San, hari ini aku akan berterus-terang kepadamu, sebenarnya aku mengagumimu dan ingin menjadi seseorang yang spesial dihatimu", ucap Heru. Akupun gelagapan mendengar ucapan Heru, seperti petir di siang bolong. Selama ini aku lupa akan mengenalkan Rudi, pacarku kepada Heru. "Maaf sebelumnya Her, bukannya aku tak menghormati perasaanmu, cowok yang memarkir mobil dan berjalan menuju cafe ini adalah pacarku, namanya Rudi kuliah di fakultas kedokteran", jawabku pelan. Bagaikan bertepuk sebelah tangan,  perasaan cinta Heru tak disambut baik oleh Santi. Heru tertunduk lemas memandang Rudi yang berjalan menuju mereka. Sesampainya di cafe, Heru bergegas meninggalkan mereka berdua.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menyalanya Lampu oleh Larutan Garam Dapur

Peyek Laron

Sifat Osmosis Cairan Infus