Mbok nah

Mbok nah, kami biasa memanggilnya. Nenek tua yang sudah berusia hampir delapan puluh tahun ini harus berjuang sekuat tenaga menghidupi anak dan cucunya. Semenjak ditinggal mati suaminya dua tahun lalu, mbok nah harus rela hidup di bawah kolong jembatan. Rumah dan segala harta benda peninggalan suaminya habis dijual untuk menyelamatkan nyawa cucunya, Siti yang mengidap penyakit leukimia atau kanker darah. 

Orang tua Siti hidup serba kekurangan, untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya mereka mengandalkan upah buruh panggul di pasar besar yang jaraknya sekitar dua kilometer dari rumahnya. 

"Mbok, di belakang rumah ada botol dan kaleng bekas, jika mau silhkan di ambil", ucapku sembari menuntun tangan mbok Nah ke belakang rumah. Mbok Nah bekerja sebagai pemulung di perumahan tempat tinggalku. Usia yang sudah tak muda sehingga tenagapun tak sekuat dulu, untuk berjalan pun harus menggunakan tongkat sebagai penopang. Keriput terlihat jelas di wajah dan tangan mbok Nah, badanpun kian kurus kering, layaknya tulang yang hanya dibalut kulit. Seakan hidup segan mati tak mau, itulah yang dialami mbok nah. Nenek seusianya yang seharusnya duduk menikmati masa tua bersama cucunya, kini harus berjuang sekuat tenaga untuk menghidupi diri dan keluarganya. 


#pentigraf kedelapanbelas

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Uji pewarna alami pada tahu kuning

Peyek Laron

Rumah Prodeo