Salah Paham
Seperti biasanya, perayaan hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia yang biasa disebut dengan tujuh belasan di desaku diisi dengan aneka perlombaan seperti tarik tambang, panjat pinang, gobag sodor, lomba makan kerupuk, lomba memasak, lomba karaoke dan lomba menghias tumpeng. Lomba ini diikuti oleh seluruh warga desa mulai anak-anak hingga orang dewasa. Pergelaran lomba dimulai seminggu sebelum tanggal tujuh belas.
Puncak acara perayaan tujuh belasan diisi dengan panggung hiburan. Selain penyerahan hadiah lomba, aneka tarian juga disajikan dalam pentas itu. Tiba-tiba ada kejadian yang tidak mengenakkan. Pak kumis seakan kebakaran jenggot, marah-marah kepada panitia acara. "Apa-apaan ini, joget-joget memakai karpet saya. Kalian tahu nggak karpet ini saya gunakan untuk sholat keluarga saya. Ini namanya penistaan. Siapa ketua panitianya, ambil barang orang seenak udel e dewe", teriak pak kumis di ruang panitia.
Beberapa orang mencari Abas selaku ketua panitia tujuh belasan. Abas pun bergegas menemui pak Kumis di ruang panitia. Tanpa basa basi pak kumis menggertak Abas secara membabi buta layaknya rudal perang yang ditembakkan kepada lawan, tanpa memberi kesempatan sekalipun kepada Abas untuk menjelaskannya. Jantung Abas berdetak kencang, melebihi laju sepeda motor Marquez di sirkuit Mandalika. Hatinya berguncang laksana gempa bumi 9,3 skala richter yang mengguncang Aceh beberapa tahun silam, tubuhnya seakan lunglai tak bertulang saat pak Kumis mengucapkan satu kata laknatulloh. Saat amarah pak Kumis mereda, Abas menjelaskannya "Ngapunten bapak, karpet yang digunakan di atas panggung adalah karpet saya, mungkin bapak lupa kalau kita pernah beli bersama di pasar Klewer saat rekreasi di Solo. Karpet berwarna hijau bermotif bunga putih", jelas Abas. Seketika pak Kumis meninggalkan ruang panitia dengan muka merah menahan malu.
#pentigraf keduabelas
Komentar
Posting Komentar