Lepas dari Pengait

Atin, nama lengkap dari Prihatiningsih adalah anak seorang petani. Ia bekerja sebagai guru tidak tetap di madrasah yang berada tak jauh dari rumahnya. Gadis lulusan salah satu perguruan tinggi negeri di kota Malang ini berulang kali mengikuti tes calon pegawai negeri sipil tetapi nasib baik belum berpihak padanya. Meskipun seorang guru, Atin tetap membantu pekerjaan ayahnya di sawah meski hanya sekedar mengantar makanan.

Berdasarkan pranoto mongso menggunakan perhitungan ilmu "titen", yaitu ilmu yang didapat dengan mengamati fenomena alam, saat ini adalah saat yang tepat untuk memulai menanam padi. Siang ini, Atin mengantar makan siang untuk ibu-ibu petani yang sedang melaksanakan aktivitas tandur. Istilah tandur berasal dari kata tanam mundur, dimana petani menanam padi dengan cara mundur. 

Sesampainya di sawah, makanan diletakkan di gubug yang terletak di pojok sebelah kiri. Atin berjalan mengelilingi galengan sawah yang di tanami kacang hijau. Dengan cekatan, ia memetik lembayung yaitu daun muda tanaman kacang hijau untuk dimasak sayur. Alangkah terkejutnya hati Atin ketika melihat ulat yang menempel di daun lembayung. Secepat kilat ia berlari meninggalkan galengan menuju gubug. Sesampainya di sana, Atin berloncat-loncat karena merasakan sesuatu yang aneh dipunggungnya. Pikirannya kalut bukan kepalang, jangan-jangan ada ulat lembayung di punggungnya. "Mbooooookkk, ada ulat di punggungku", teriak Atin sambil mengibas-ngibaskan punggungnya dengan tangannya. Sesekali Atin berjingkrak-jingkrak seperti penyanyi rock and roll bermain musik dengan harapan sesuatu yang berada di punggungnya segera hilang. Seketika simbok menghampiri dan melihat punggung Atin. Tak ada penampakan satupun ulat di punggung Atin tetapi yang dilihat hanya kalung Atin yang bergelantungan di punggung karena terlepas dari pengaitnya.


#pentigraf ke enam

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Uji pewarna alami pada tahu kuning

Peyek Laron

Rumah Prodeo