Laora Oh Laora

Malam Minggu malam yang panjang, malam yang asyik buat pacaran. Sepertinya, ungkapan itu tak berlaku bagi Anto sebab ia tak memiliki pacar. Anto adalah jomblo sejati yang sulit mendapatkan pacar. Seleranya sangatlah tinggi bak gedung pencakar langit. Tubuh langsing, perawakan tinggi, berkulit putih, cantik dan berambut panjang adalah gadis idamannya.

Saat malam Minggu Anto pergi ke alun-alun, melepas penat setelah seharian bekerja. Sembari duduk di kursi bawah pohon palem, ia memperhatikan setiap wanita yang lewat dihadapannya. Tak satupun dari mereka yang sesuai dengan kriterianya. Tiba-tiba Anto merasakan perutnya keroncongan, cacing-cacing penghuni perutnya sudah saatnya diberi makan. Sepiring Kupang lontong pojokan alun-alun dimakan dengan lahapnya. Selepas makan, Anto bergegas pulang ke rumahnya.

Naas bagi Anto, sesampainya di jembatan gajah Mada, ban sepeda motor yang ditumpanginya bocor sehingga harus di bawa ke bengkel. Hampir satu kilometer perjalanan dilaluinya, tak satupun bengkel ditemukannya. Alhasil, Anto duduk meratapi nasibnya pada sebuah bangku panjang di depan pabrik micin. Tiba-tiba matanya menemukan sesosok berperawakan tinggi, berkulit putih mulus, cantik, berambut panjang persis ciri-ciri wanita idamannya. "Alhamdulilah ya Alloh, kau kirimkan bidadari padaku", ujar Anto dengan perasaan senang bukan kepalang. Tanpa pikir panjang, Anto segera menghampirinya. "Cantiikkk, godain saya dong!", teriak Anto. Dalam sekejap sosok tersebut menoleh pada Anto. "Ommmm, sini om", jawabnya sambil menoleh ke arah Anto dengan suara besar seperti orang laki-laki. Dalam hitungan detik Anto lari tunggang langgang meninggalkannya. Ternyata sosok itu adalah seorang laora, lanang ora wedok ora.


#pentigraf kesembilan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Uji pewarna alami pada tahu kuning

Peyek Laron

Rumah Prodeo