Tak Berkesudahan
Aku dan temanku, Susan hendak ke desa antah-berantah. Desa yang menjajakan bakso viral saat ini, bakso barongan namanya. Rasa penasaranku pada makanan yang satu ini berkecamuk dalam pikiranku. Hampir tiap hari terbayang-bayang, sebab menurut cerita beraneka macam varian bakso disajikan di sana. Susan kubonceng dengan sepeda matic kesayanganku, sepeda motor warna abu-abu yang selalu setia mengantarkanku kemana saja pergi.
Sesampainya di bendungan rolak songo, cuaca kurang bersahabat. Gerimis manis menghampiriku. Masih terlihat jelas air genangan sisa hujan tadi malam bercampur dengan bangkai hewan berukuran kecil bernama klaper. Hewan satu ini memiliki bau sangat amis dan membahayakan pengendara yang melewatinya. Tak jarang banyak pengendara sepeda motor berjatuhan, sebab bangkai klaper dan air membuat jalanan licin.
Bau bangkai klaper semakin lama kian menusuk hidungku, meskipun sudah kututupi masker. Baunya terus menusuk pangkal hidungku hingga masuk dalam perutku. Rasa mual dan hampir muntah karena bau ini tetap kutahan sembari kulajukan sepeda motorku dengan cepat. Setelah melewati hampir satu kilometer dari bendungan rolak songo hidungku masih mencium bau tak sedap. "Bau klaper tadi kok tak berkesudahan ya, bukankah kita sudah jauh dari rolak songo", ujarku pada Susan yang duduk di boncengan sepeda motorku. "Maaf ya, aku kentut, sebelum berangkat aku makan ubi jalar rebus sehingga perutku terus-menerus mengeluarkan gas ", jawab Susan
#pentigraf keempat
Komentar
Posting Komentar