Los Dol

Hujan deras mengguyur sore itu, kuputuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan pulang kerumah.  Aku berhenti di stasiun pengisian bahan bakar di kecamatan Bangsal. Kulihat jarum spedometer sepeda motorku hampir menyentuh huruf E atau empty yang menandakan bahan bakarnya habis. "Pak, pertalite dua puluh ribu ya", ucapku pada petugas SPBU. Selesai transaksi kutepikan sepedaku, sembari menunggu hujan reda.

Rintik hujan masih turun membasahi bumi, kulanjutkan perjalanan pulang kerumah sebab hari sudah mulai petang. Aku harus mengendara ekstra hati-hati karena jalanan hampir gelap dan berlubang. Waktu menunjukkan pukul enam sore, kudengar suara adzan bersahut-sahutan. Akupun harus segera sampai dirumah agar tidak tertinggal sholat Maghrib.

Kulajukan sepeda motorku dengan kecepatan tinggi. Tanpa kusadari ada pengendara lain yang megikutiku. Dengan perasaan was-was akupun takut pada begal yang marak di kota-kota besar. Jantungku berdetak kencang, seperti angin topan menyambar pohon di pinggir jalan. Pikiranku kalut bukan kepalang, bayangan begal ganas yang melukai korban terus menghantuiku. Sekilas kulihat kaca spion, pengendara itu masih saja membuntuti ku. Kutambah laju sepedaku  dan pembuntut itu makin mengencangkan lajunya. Layaknya pembalap motoGP di sirkuit Sepang kamipun beradu kecepatan. Sesampainya di pertigaan kunyalakan lampu sein ke arah kiri. Kulambatkan laju sepedaku karena jalan dalam kodisi membelok. Pembuntut itu berhasil menyalip ku dari kiri sambil berteriak, "mbak, tas ranselnya mbuka", teriaknya sambil meninggalkanku. Kuberhenti di tepi jalan dan memeriksa tas ranselku. Benar saja mbuka, resletingnya los dol alias rusak sehingga tas ranselku terbuka.


#pentigraf ketigabelas

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Uji pewarna alami pada tahu kuning

Konsumsi kenikir, asam urat menyingkir

Terbang ke Awan