Hanyalah Imitasi

Seperti biasa, selepas sholat subuh baju kotor yang terkumpul di keranjang samping kamar mandi harus segera kucuci sebab mereka akan berkembang biak dan beranak pinak jika dibiarkan terlalu lama. Rombongan baju dan keturunannya kumasukkan dalam mesin cuci merah maroon hadiah jalan santai di desaku dalam rangka peringatan hari kemerdekaan republik Indonesia tahun lalu. Knop wash pada mesin cuci berputar sesuai perintah yang kuberikan.

Sembari mesin cuci bekerja, kuambil sapu ijuk yang tergantung dibelakang pintu dapur untuk membersihkan lantai. Alangkah terkejutnya hatiku, seekor ular berwarna hijau melingkar di atas rak piring yang berada tepat di samping meja makan. Jantungku berdetak makin kencang seperti genderang perang bertabuhan. Mulutku komat-kamit membaca istighfar layaknya seorang dukun membaca mantra. Mimpi apa aku semalam, sehingga ada ular yang menyapaku pagi ini.

Kuberlari kesana kemari hendak mencari bantuan, tapi tak seorangpun kutemukan. Alhasil kutemukan emak di kebun belakang.
"Maaaaak, ada ular di atas rak piring", ucapku pada emak dengan napas ngos-ngosan, tak ubahnya napas seorang pelari maraton yang mengikuti lomba. Seketika emak mengikutiku dengan membawa tongkat bambu di tangan kanan, selayaknya perang antara pasukan sekutu dengan arek-arek Surabaya yang bersenjatakan bambu runcing. Perangpun dimulai, ular diambil dari rak piring, dibanting kelantai kemudian di pukul dengan bambu berulang kali. Anehnya, ular tidak mengeluarkan darah sama sekali. Setelah di bolak-balik menggunakan bambu ternyata hanyalah ular imitasi.

#pentigraf kelima

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Uji pewarna alami pada tahu kuning

Konsumsi kenikir, asam urat menyingkir

Terbang ke Awan